Resiliensi Kehidupan dan Semangat

Menjadi Jurnal Berkualitas

Covid-19 yang kemudian berkembang menjadi pandemi global sungguh menjadi pelajaran dan pengalaman sangat berharga tentang bagaimana masyarakat harus menata hidup mulai saat itu dan ke depan. Kegiatan sekolah dan kampus serta lembaga-lembaga negeri dan swasta di-online-kan. Bahkan pasar-pasar serta toko-toko dibatasi aktivitasnya. Industri(alisasi) pariwisata tidak bergerak. Pesawat-pesawat terbang nongkrong di tempat parkirnya masing-masing. Hampir tidak ada kunjungan wisatawan sama sekali. Pariwisata seperti tidak lagi seperti pariwisata karena ia sebenarnya identik dengan mobilitas fisik manusia. Akibatnya, pendapatan masyarakat Bali yang tidak bisa lepas dari pariwisata menjadi berkurang sangat drastis.

            Bali hari ini adalah Bali yang baru memulai lagi, sedikit demi sedikit, aktivitas pariwisatanya. Kehidupan berjalan menuju normal lagi dan mudah-mudahan segera normal. Tempat-tempat wisata seperti Tanah Lot yang ikonik itu semakin menanjak pengunjungnya dari sebelum-sebelumnya. Hotel-hotel perlahan menggeliat, apalagi dengan pemberitaan-pemberitaan bakal digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi G20.

            Masyarakat Bali dengan situasi ini sebelumnya dapat dinyatakan sedang beresiliensi. Mereka harus selalu berupaya yang terbaik. Apa pun yang terjadi tidak boleh putus asa. Seperti itu juga penggambaran kehidupan Jurnal Bali Membangun Bali yang sudah berdiri dua setengah tahun, yang waktu kelahirannya hampir sama dengan kedatangan virus korona kali pertama di Pulau Dewata. Penuh tantangan di masa-masa awalnya, baik dalam pencarian naskah maupun persoalan teknis-dan nonteknis lainnya dari pengaruh sang pandemi. Untuk itu, saat inilah kesempatan untuk tetap bersemangat mengembangkan diri menjadi jurnal yang berkualitas, yang lebih dari sekadar ber-ISSN dan ber-Google Scholar serta ber-Garuda dan berindeks Crossref (DOI). Istilahnya: JBMB harus bertamu di rumah Arjuna (akreditasi jurnal nasional) untuk bisa bertemu Sinta (science and technology index). Sinta sebagai sistem akreditasi jurnal nasional adalah salah satu indikator terpenting untuk menunjukkan kualitas sebenarnya jurnal ini.

            Dalam volume 3 Nomor 2 Agustus 2022, ditampilkan sejumlah artikel baik dengan beragam tema. Karena mesti diresiliensi dalam masyarakat Bali, pariwisata menjadi salah tema yang dipertahankan berhubung Bali sendiri terbukti sangat turistik. Kali ini yang dikedepankan adalah persoalan-persoalan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) di mana sustainabilitas bukan saja menjadi masalah lokal tetapi juga global. Di luar itu terdapat artikel-artikel bertema kebudayaan, yakni empat artikel pertama, untuk menunjukkan bahwa pariwisata Bali adalah pariwisata budaya sesuai Perda Bali Nomor Tahun 2 Tahun 2012.

Keenam artikel di edisi ini sebagai berikut. (1) “Writing Background Music for  ‘Bali Channel Tourist TV’ Television Program” (Frederik Kevin Wuran, Ricky Irawan, Guntur Eko Prasetyo, Ni Wayan Ardini); (2) “Makna Paribasa Bali dalam Geguritan Sampik ‘I Sampik Tong Nawang Natah” (Tinjauan Linguistik Kebudayaan)” (I Gusti Putu Sutarma, I Wayan Jendra, Ida Bagus Artha Adnyana, I Gusti Made Wendri); (3) “Eksistensi Kebaya Bali “Ready to Wear” pada Masa Pandemi Covid-19” (Dewa Ayu Putu Leliana Sari); (4) “Kepuasan Masyarakat terhadap Penyaluran Banten Bantuan Program Atma Kerthi Pemerintah Provinsi Bali” (Putu Sarjana, Putu Yudy Wijaya, I Putu Sastra Wibawa, I Gde Jayakumara); (5) “Hotel’s CSR Implementation Based on PROPER Program for Sustainable Tourism Development” (Made Yani Sawitri, I Ketut Budarma, I Made Darma Oka, I Gusti Made Wendri, I Ketut Suja, Luh Eka Armoni); dan (6) “Green Tourism Implementation to Create an Environmentally Friendly Accommodation” (Abdul Rokip, Ni Gst Nym Suci Murni, Ni Putu Manik Prihatini, I Wayan Nurjaya, I Dewa Gede Ari Pemayun).

DOI: https://doi.org/10.51172/jbmb.v3i2

Published: Aug 6, 2022